Ramadhan sampai lagi. Zaman demi zaman disinggahi tanpa kebosanan. Meski dulu ada yang pernah menyebut zaman ini zaman edan. Edan memang, manusia tidak hanya berbicara dengan manusia lain, plastik recycle dengan sedikit sentuhan teknologi diajak bicara, entah di kamar, di halte pinggir jalan yang panas, di pinggir tembok setasiun bekas orang-orang pada bersembunyi hanya untuk kencing, di tengah kerumunan orang-orang yang juga berbicara pada plastik, bahkan tertawa diatas kloset bersama palastik. Ada juga yang bilang tahun 2000 semuanya serba mesin, kendaraan bermesin, informasi bermesin, cukur rambut mesin, ada mesin tes kebohongan karena kejujuran jadi barang langka, jantung manusia dipasang mesin, kaki mengandalkan mesin, melahirkan dengan mesin, bahkan bernafaspun kadang diambil alih mesin.
Ramadhan bertandang lagi. Pintu demi pintu jiwa-jiwa diketuk. Tak peduli jiwa pada sekat mana, sekat yang dibuat manusia sendiri yang katanya memenejemen hidup. Entah benar entah tidak, entah sadar atau mabok, entah waras juga gila, entah hidup atau mati. Semua mendapat kunjungan berkah Ramadhan. Tuhan Maha Adil memang, maka ambilah sesuai porsi masing-masing.
Ramadhan menyapa lagi. Setiap bentuk wajah mendapat bagian senyum sang Ramadhan. Tak pandang bulu akan warna dan rona wajah. Maka beruntunglah mereka yang lahir dan bisa melihat wajah sendiri melalui cermin sang muadzin ketika memberi tahu siapa dan darimana kita melalui kuping kanan kita kala itu.
Ramadhan masih berada meski di tepi zaman. Membagikan alamat perjalanan kepada semua manusia. Maka jangan pedulikan apatis yang bercokol di pojokan nyali. Semua melihat, semua mendengar, semua berkata-kata, persis seperti Ayat-ayat Suci. Dan itu adalah alamat. Bukankah tujuan manusia adalah kembali ke asalnya? Bukankah Adam berasal dari surga? Ramadhan dengan jujur menunjukkan alamat itu, untuk kita ikuti.
Ramadhan berkata mau mengantar kita menemui Dzat yang berada tanpa disertai arah, berwujud tanpa dicontek oleh bentuk, bertempat tanpa membutuhkan ruang dan volume. Allahu Akbar...
Ramadhan, meski aku hidup di zaman edan, terkontaminasi oleh mesin, tersekat oleh harga diri, bertopeng kebohongan dan tersesat jauh, hantarkan kami sedekat mungkin pada-Nya...