Jumat, 17 April 2009

Perjalanan

amukan ketidaksetujuan diri membentur tembok sepi sang norma
membiarkan kepastian terduduk di pojok belantara karma
sementara aku masih terus mengorek tumpukan sampah kota
demi kelaparan harga diri yang piarakan buah demi buah keringat
pada pagi,
burung pergi
pada sore,
angin pulang
pada malam,
seharusnya ada zuhud pada subuh